Selasa, 16 Agustus 2022

Potensi Pengembangan Sektor Pertanian di Desa Bogoran

Indonesia memperoleh julukan sebagai negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian dalam sektor pertanian. Pertanian menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi besar dalam pembangunan negara Indonesia. Sektor pertanian memberikan beberapa peran penting diantaranya sebagai penyedia kebutuhan pangan negara, penyedia lapangan pekerjaan, menyumbang pendapatan negara. Selain itu, sektor pertanian menjadi penyokong dalam kemajuan perekonomian negara. Hal ini dibuktikan dengan pemanfaatan hasil pertanian yang kemudian diekspor ke negara lain sehingga dapat meningkatkan pendapatan negara. Dengan berbagai peran tersebut maka sektor pertanian di Indonesia perlu dikembangkan lebih lanjut dengan memanfaatkan sumber daya serta kemajuan teknologi secara lebih optimal.

Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah 984,68 km2 atau 3,03% luas Provinsi Jawa Tengah. Kondisi geografis dari Kabupaten Wonosobo didominasi oleh daerah perbukitan dengan ketinggian tempat yaitu 200 mdpl hingga 2.250 mdpl. Ketinggian tempat berpengaruh terhadap suhu lingkungan sekitar. Daerah yang berada di dataran tinggi cenderung memiliki suhu yang lebih rendah. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan tekanan udara. Adapun rata-rata suhu udara di Kabupaten Wonosobo yaitu 14,3°C - 26,5°C sedangkan curah hujan rata-rata pertahun yaitu 1713-4255 mm/tahun.

Desa Bogoran merupakan daerah yang terletak di Kecamatan Sapuran. Desa ini memiliki potensi baik dalam sektor perekonomian, kebudayaan, pertanian maupun peternakan. Dalam hal ini, Desa Bogoran didominasi penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani. Hal tersebut dapat disebabkan karena kondisi geografis dan faktor klimatologi yang mendukung untuk kegiatan budidaya pertanian. Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Wonosobo yaitu tanah regosol (40%), podzolik (35%), dan andosol (25%). Tanah regosol termasuk jenis tanah yang mengandung bahan organik yang rendah, bertekstur kasar, dan tidak dapat menampung air dan mineral yang dibutuhkan tanaman dengan baik. Tanah ini cocok untuk ditanami tanaman palawija, pangan, dan hortikultura. Adapun pertimbangan dalam pemilihan komoditas tanaman yang dibudidayakan berupa tanaman palawija yaitu membutuhkan air dalam jumlah yang sedikit mengingat Kabupaten Wonosobo termasuk daerah  dataran tinggi yang memiliki keterbatasan pengairan pada beberapa wilayah.

Sistem pertanian yang diterapkan di Desa Bogoran termasuk pertanian tradisional. Hal ini disebabkan karena dalam pelaksanaan kegiatan budidaya pertanian masih memanfaatkan alat-alat tradisional dan belum menggunakan teknologi modern. Adapun alat-alat pertanian yang digunakan misalnya cangkul, sabit, dan spryer. Dengan diterapkannya sistem pertanian tradisional maka kelestarian lingkungan dan ekosistem akan terjamin, kesuburan tanah dapat terjaga, dan menghasilkan produk pertanian yang sehat dan aman untuk dikonsumsi. Selain kelebihan tersebut, penerapan sistem pertanian tradisional memiliki beberapa kekurangan diantaranya tidak efektif dan efisien dalam penggunaan waktu, tenaga, dan biaya. Hal ini disebabkan karena penggunaan sistem pertanian tradisional memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak sehingga biaya yang digunakan untuk operasional kegiatan pertanian cenderung mengalami peningkatan. Belum adanya penerapan teknologi modern dalam kegiatan pertanian dapat menjadi hambatan dalam pengembangan sektor pertanian.

Gambar 1. Opak yang diproduksi di Desa Bogoran

Desa Bogoran terdiri dari tiga dusun yaitu Bogoran, Kyuni, dan Wadas. Wilayah desa ini terdiri dari pemukiman penduduk, perbukitan, area persawahan dan ladang. Area persawahan penduduk ditanami dengan beberapa komoditas pertanian. Komoditas tanaman pangan yang dibudidayakan oleh masyarakat Desa Bogoran meliputi tanaman padi dan singkong. Penanaman padi dilaksanakan pada musim penghujan yaitu antara bulan Oktober-April. Adapun tanaman singkong dibudidayakan sebagai bahan dalam pembuatan opak. Sebagian masyarakat desa memproduksi opak sebagai salah satu makanan khas Desa Bogoran. Hal tersebut sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Salah satu bahan yang dimanfaatkan dalam pembuatan opak yaitu tanaman kucai yang ditanam dengan menggunakan polybag. Penambahan kucai dalam pembuatan opak bertujuan untuk meningkatkan cita rasa dari opak.

Gambar 2. Kopi yang dibudidayakan petani Desa Bogoran

Budidaya tanaman tidak hanya dilakukan untuk tanaman pangan melainkan komoditas perkebunan, hortikultura hingga tanaman tahunan. Kopi dan teh merupakan tanaman perkebunan yang dibudidayakan oleh petani di Desa Bogoran. Budidaya tanaman kopi dan teh dilakukan dalam skala kecil. Hasil produksi kopi dan teh dipasarkan melalui media sosial dan secara langsung. Kopi dijual setelah mengalami proses pengeringan. Selain itu, sudah terdapat petani yang mampu menghasilkan produk berupa kopi yang siap untuk dikonsumsi. Kendala yang dihadapi petani yaitu terkait dengan pemasaran dan penjualan hasil produksi pertanian. Hal tersebut disebabkan karena penjualan dilakukan kepada tengkulak setempat sehingga pendapatan yang dihasilkan cenderung lebih rendah. Desa Bogoran memiliki potensi dalam pengembangan budidaya tanaman hortikultura seperti sayuran. Kondisi geografis dan klimatologi yang mendukung dapat menjadi pertimbangan untuk membudidayakan tanaman hortikultura. Selain itu, tanaman tahunan yang dibudidayakan di Desa Bogoran yaitu kayu albasia. Kayu yang dihasilkan dari tanaman albasia dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai material bangunan dan keperluan lainnya sehingga banyak dibudidayakan oleh petani di Desa Bogoran.

Pembangunan dalam sektor pertanian bertujuan untuk pemenuhan ketersediaan pangan dan tercukupinya gizi serta sebagai sarana penambahan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan pertanian berkelanjutan merupakan sebuah gerakan pertanian yang mengutamakan penggunaan prinsip, studi hubungan antara organisme dan lingkungannya Dalam hal ini sistem pertanian berkelanjutan didefinisikan sebagai sebuah sistem terintegrasi antara praktik produksi tanaman dan hewan dalam sebuah lokasi dan dalam jangka panjang. Terdapat beberapa macam tujuan dilaksanakannya sistem pertanian berkelanjutan diantaranya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan serat manusia, penggunaan sumber daya alam secara efisien, meningkatkan kualitas lingkungan dan sumber daya alam berdasarkan kebutuhan ekonomi pertanian, serta meningkatkan kualitas hidup petani dan masyarakat secara keseluruhan. Pertanian berkelanjutan dapat digunakan sebagai salah satu sarana dalam upaya pembangunan suatu daerah. Hal tersebut disebabkan karena pertanian merupakan sektor penting dalam menyumbang pendapatan suatu daerah/ negara.

Selasa, 09 Agustus 2022

Peta Administrasi Kecamatan Sapuran

 


Komoditas Ternak di Desa Bogoran

    Berjarak 40 km dari pusat Kabupaten Wonosobo, Desa Bogoran terletak di Kecamatan Sapuran. Tipikal geografis berupa perbukitan membuat Desa Bogoran kaya akan Sumber Daya Alam yang subur dan cocok untuk pertanian. Desa Bogoran merupakan salah satu wilayah yang ada di Kabupaten Wonosobo yang memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata 14,3 - 26,5 derajat Celcius. Sebagian besar jenis tanah yang ada di daerah ini adalah Tanah Regosol adalah jenis tanah yang berbutir kasar sebagai hasil dari pengendapan. Jenis tanah regosol ini cocok untuk ditanami tanaman seperti padi, tebu, palawija, tembakau dan sayuran. Desa Bogoran terbagi menjadi 3 dusun yaitu Dusun Wadas, Dusun Bogoran dan Dusun Kyuni. Lokasi pegunungan dan masyarakat yang bekerja di sektor pertanian memberikan peluang adanya pengembangan peternakan. Komoditas ternak yang ada di Desa Bogoran kebanyakan ternak kambing. Jumlah peternak kambing yang ada di Desa Bogoran cukup banyak dengan kepemilikan rata-rata 8 hingga 10 ekor. Ternak kambing memiliki keunggulan mudah perawatan, kebutuhan pasar yang besar, lahan yang tidak luas dan modal yang tidak besar. Usaha ternak kambing berperan meningkatkan pendapatan dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia di sekitarnya. Selain berfungsi sebagai sumber protein hewani, ternak kambing juga berperan sebagai aset yang dapat dijual sewaktu-waktu sebagai tambahan pendapatan, Selain itu kotoran kambing dapat dijadikan sebagai pupuk yang dapat memberikan keuntungan bagi petani. Pupuk kompos berperan menyuburkan tanah. Pengembangan mutu usaha ternak kambing dapat didukung dengan adanya sumber daya ternak kambing lokal yang berkualitas dan adaptif terhadap kondisi lingkungan. Indikator peningkatan pembangunan subsektor peternakan dapat dilihat dengan adanya indikasi bertambahnya populasi ternak di desa Bogoran. Salah satu faktor pendukungnya adalah dengan meningkatkan kualitas pakan dan mineral. Masyarakat Desa Bogoran masih menerapkan pemeliharaan ternak secara tradisional. Pemberian pakan berupa hijauan dari hasil sisa pertanian dan rumput yang tumbuh di sekitar lahan pertanian. Ketersediaan pakan yang tidak menentu setiap musim memberikan permasalahan bagi peternak untuk memenuhi kebutuhan pakan. Dengan adanya kendala tersebut perlu dilakukan inovasi pengolahan pakan. Salah satu alternatif pakan adalah silase. Silase merupakan pakan hijauan yang diawetkan dan disimpan dalam tempat kedap udara. Silase dapat difermentasi menggunakan kantong plastik, silo dan drum dalam keadaan tanpa udara atau anaerob. Kegunaan dari pembuatan silase sebagai pakan ternak ialah sebagai cadangan dan persediaan pakan ternak pada saat musim kemarau yang panjang. Kedua, memanfaatkan pakan hijauan pada saat kondisi dengan nilai nutrisi terbaik seperti protein yang tinggi. Ketiga, memanfaatkan sumber pakan dari sisa limbah pertanian ataupun hasil agroindustri pertanian dan perkebunan seperti bekatul, dedak, bungkil sawit, ampas tahu,tumpi jagung, janggel jagung. Alat yang dibutuhkan dala pembuatan silase antara lain terpal, ember, plastik atau drum dan tali. Bahan yang dibutuhkan yaitua EM4, air, rumput, molases dan dedak padi. Proses pembuatan silase yaitu air sebanyak 1 L ditambahkan 2 tutup botol EM4, molses sebanyak 1 botol untuk 3% bahan silase, dedak sebanyak 2-5% dari total bahan silase. Semua bahan dicampurkan sampai rata dengan rumput. Setelah pencampuran selesai dimasukkan ke plastik atau drum kedap udara. Proses fermentasi berlangsung selama 7-28 hari. Ciri silase yang baik yaitu memiliki bau asam, berwarna hijau, tidak berjamur, tidak berlendir dan menggumpal.
    Selain permasalahan pakan, peternak juga memiliki permasalahan induk yang baru melahirkan biasanya mati atau lemas. Hal tersebut salah satunya dapat disebabkan induk kekurangan mineral. Untuk mengatasi hal tersebut terdapat salah satu solusi yaitu pemberian mineral blok. Mineral sangat dibutukan bagi ternak. Mineral merupakan komponen anorganik yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit dalam pakan. Mineral blok merupakan pakan tambahan atau suplemen yang sudah dipadatkan yang memiliki kandungan mineral dan vitamin. Manfaat mineral antara lain menyediakan nutrien tambahan, meningkatkan efisiensi penggunaan pakan. meningkatkan proses metabolisme pada ternak dan meningkatkan konsumsi pakan. Gejala kekurangan mineral pada ternak antara lain ternak sering menjilat atau menggigit kayu bangunan kandang, pertumbuhan ternak terhambat dan menurunkan produktivitas dan kualitas susu.


    Alat yang dibutuhkan dalam pembuatan mineral blok yaitu terpal, peralon dan ember. Bahan yang dibutuhkan antara lain molses, semen putih, dedak padi, mineral dan garam. Cara pembuatan mineral yaitu garam sebanyak 2 kg dicampur dengan ultra mineral kemudian ditambahkan semen putih sebagai perekat. Semen tidak berbahaya untuk ternak karena semen terbuat dari kapur yg dibutuhkan oleh ternak, ketika ditambahkan air maka zat yang ada di kapur tidak aktif. Selanjutnya ditambahkan bekatul lalu diaduk rata.  Molases ditambahkan air supaya tidak menggumpal. Penambahan air jangan sampai terlalu encer. Adonan dicetak dan didiamkan hingga keras kemudian diberikan ke kambing.







 

Senin, 08 Agustus 2022

Grafik Kependudukan Desa Bogoran

Potensi Pengembangan Sektor Pertanian di Desa Bogoran

Indonesia memperoleh julukan sebagai negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian dalam sektor pertanian....